Sorong Bakal Jadi kota Transito


Penulis : Abraham | Rabu,05 September 2018

17

Bandara DEO Sorong (Foto: dok. Kemenhub

Tak dipungkiri Kota Sorong saat ini menjadi Kota Transito untuk tanah Papua bahkan Indonesia. Transito dalam bidang perdagangan, industri dan transportasi serta mobilisasi penduduk antar Propinsi, Kota serta Kabupaten. Pembangunan infrastruktur ekonomi dan perhubungan darat, udara serta laut menjadi faktor pendukung yang membawa Kota Sorong ke       peran pintu gerbang Papua sekaligus titik transit. Apalagi posisi geografis di jalur silang dua wilayah, Papua Selatan dan Papua Utara, membentuk titik simpul komunikasi wilayah utara, selatan dan barat serta timur Papua. Kalau terwujud apa yang pernah diimpikan mantan Walikota Sorong Drs. J.A.Jumame, “bahwa Sorong bakal menjadi Singapuranya Indonesia” bakal jadi kenyataan.

Walikota Sorong periode 2012 - 2017 sekarang Drs. Ec. Lamberthus Djitmau punya mimpi dan tekad sama. Penerus cita-cita seniornya itu, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kepercayaan yang diemban saat ini. Menggunakan posisi orang nomor satu di Kota Sorong, Djitmau memuluskan jalan pengembangan Bandar Udara Domine Eduard Osok dengan membebaskan lahan dari penduduk yang membangun dan menempati rumah di sekitar areal instalasi pe­nerbangan sipil itu. Ganti rugi tak segan dikucurkan kepada me­reka yang berhak menerimanya. Areal pun bebas dari tuntutan warga.

Kemenhub me­nyam­­­butnya dengan merancang dan melaksanakan pengembangan Bandara DEO. Terminal baru yang lebih representatif di bangun. Awal Tahun 2016, pengembangan itu rampung. Menteri Perhubungan Ignasius Yonan datang dan meresmikan Terminal yang tergolong megah di Papua dan Papua Barat pada hari Sabtu, 30 April 2016.

Peresmian oleh Menteri Perhubu­ngan (Menhub) Ignasius Jonan Sabtu 30 April 2016 itu, bersamaan dengan persemian Bandara Mopah Merauke secara simbolis. Menteri Perhubu­ngan, Ignasius Jonan, me­negaskan pembangunan infrastruktur difokuskan untuk wilayah Timur Indonesia sebagai wujud nyata program Nawacita Pemerintahan Pre­siden RI, Joko Widodo.

Dia mengharapkan dengan pengembangan Bandara Sorong dan Merauke semakin memberikan arti pemerataan pembangunan yang salah satu cirinya adalah kecilnya disparitas harga, antara wilayah Barat dan Timur. Untuk memperkuat tujuan tersebut, sesuai arahan Presiden RI, akan dilaksanakan program angkutan udara perintis khusus kargo di bebe­rapa wilayah Papua dan Papua Barat. “Untuk ke depannya pembangunan bandar udara dan pelabuhan di Papua akan diperbanyak” kata Jonan dalam keterangan tertulis kepada para wartawan yang meliput peresmian itu, Sabtu (30/4/2016).

Pengembangan Bandara DEO dilakukan mulai tahun 2011 hingga awal tahun 2016, meliputi pembangunan gedung terminal penumpang menjadi 2 lantai. Fasilitas modern lain yang di­tambahkan yaitu: garbarata dan fixed bridge, baggage handling system, lift terminal, x-ray bagasi dan kabin multi view, walkthrough metal detector, dan penambahan fasilitas lainnya seperti area konsesi, area kerbside dan pembaruan desain interior terminal.

Total anggaran APBN yang digunakan  sekitar Rp 236 miliar. Dengan bandara yang dibangun lebih mo­dern dan megah, saat ini sangat mendukung pela­yanan jasa transportasi udara di kota Sorong, bahkan semakin mening­kat. Perkembangan ini membuat bandara DEO sebagai pintu gerbang di Kota Sorong lebih memacu Kawasan Timur Indonesia berkembang maju.

“Hal ini sesuai de­­ngan program Nawa Cita yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan dan meningkatkan kualitas hidup manusia, serta meningkatkan produktivitas rakyat,” papar Jonan ketika memberikan sambutan saat peresmian.

Tampilan bandara DEO Sorong tak kalah dengan bandara lainnya di kota-kota besar di Indonesia. Pada bagian eksterior terminal penumpang, terlihat bentuk ornamen unik menyerupai buah pinang yang mencerminkan budaya daerah Papua dan Papua Barat. Interiornya juga telah dipercantik dan dilengkapi fasilitasnya sehingga menambah kenyamanan penumpang. Gedung terminal penumpang diperluas hingga 13.700 m2, dapat menampung 782 penumpang.

Bandara DEO Sorong melayani penerbangan berjadwal domestik yang dioperasikan oleh beberapa maskapai diantaranya Garuda Indonesia, Sriwijaya Air dan Ekspress. Selain itu, Bandara DEO juga melayani Penerbangan perintis yang dioperasikan maskapai Susi air ke beberapa wilayah sekitar seperti Ayawasi, Inanwatan, Teminabuan, dan Waisai. De­ngan panjang 2.060 meter dan lebar 45 meter, runway bandara ini dapat didarati pesawat sejenis Boeing 737 seri  300 hingga seri 500.

Pergerakan pesawat di salah satu bandara tersibuk dan terbesar di paru kepala burung Papua ini meng­alami rata-rata pertumbuhan 3,3 persen tiap tahunnya. Tercatat ada 9.000 lebih pergerakan pesawat pertahunnya. Rata-rata pertum­buhan penumpang pertahun mencapai 13,2 persen. Pada tahun 2014 ada sekitar 500 ribu lebih penumpang. Untuk kargo, rata-rata pertum­buhan pertahunnya cukup pesat sekitar 17,2 persen dimana pada tahun 2014 mencapai 3,06 juta barang per kilo kargo.

Wakil Gubernur Papua Barat Irene Manibuy menyampaikan apre­siasi atas komitmen pemerintah pusat untuk membangun infrastruktur transportasi udara, laut dan darat di Papua.

“Kebahagiaan masyarakat Papua Barat, khusus Sorong semakin besar dengan rencana pembangunan jaringan Kereta Api yang akan di­mulai dari Kota Sorong” tutur Irene, menanggapi adanya bandara deo yang baru itu.

Pemerintah Pusat lewat Kementerian Perhubungan sudah mencanangkan pembangunan jalur kereta Api Sorong Manokwari. Pekerjaannya direncanakan mulai tahun 2017. Diawali dengan pembebasan lahan dari kepemilikan hak ulayat. Selain itu, juga ada rencana pengembangan Pelabuhan Laut Sorong menjadi Pelabuhan Laut Utama di Indonesia Timur, untuk mendukung program tol laut Presiden Jokowi. Jika terwujud tiga infrastruktur perhubungan itu, (Udara, Darat, Laut), maka potensi Kota Sorong menjadi pintu Gerbang Utama Papua dan Papua Barat sangat besar. Saat itulah Kota Sorong menjadi Kota Transito utuk Wilayah Indonesia Timur dan Te­ngah.  (EB-berbagai sumber)