Walikota Tinjau Sikim, Pelabuhan, Reklamasi, Jalan Dua Jalur Dan Pasar Rufei


Penulis : Abraham | Selasa,12 Maret 2019

17

Walikota Sorong, Drs. Ec. L Jitmau, MM saat meninjau Pasar Modern Rufei, Rabu (27/2/2019)

               KOTA SORONG - Walikota Sorong, Drs. Ec. L. jitmau, MM meninjau secara langsung Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang terletak di Viktori Km.10, Pelabuhan Sorong, Lokasi reklamasi pantai Dofior, Jalan dua jalur pasar Boswesen dan Pasar modern Rufei, Rabu (27/02/2019). Dalam kunjungan tersebut, walikota didampingi sejumlah pejabat di lingkungan pemerintah kota Sorong.

                Saat kunjungannya di Pelabuhan Sorong, walikota mengatakan bahwa, sehubungan dengan Kota Sorong sebagai pusat masuknya arus barang di Papua,  makoa dirinya pernah menyampaikan secara langsung kepada presiden Jokowi bahwa, harga barang di Kota Sorng semakin mahal. Kapal yang berlabuh di pelabuhan Sorong hanya bisa dua kapal saja. Sedang kapal yang masuk di Kota Sorong bisa mencapai 20-an.

               “Jadi antrian kapal menjadi panjang sehingga dikenakan biaya. Dengan demikian importir tidak mungkin berdiam diri. Mereka pasti akan menaikan harga barang yang didatangkan. Akibatnya harga barang di Kota Sorong juga menjadi mahal. Tapi kalau pelabuhan semakin besar, kapal yang antri tdak semakin banyak dan lama. Tentunya harga barang yang dijual importir-pun tidak mahal yang berdampak pada harga barang di Kota Sorong”, papar walikota.

Dilanjutkan, “Saya berterima kasih kepada Pelindo IV atas kerjasamanya untuk membangun negeri ini. Apalagi Kota Sorong ditempatkan sebagai pelabuhan tol laut di Indonesia bagian Timur, tentunya kita harus menunjukan kepada orang lain bahwa Kota Sorong telah siap menerima tantangan itu”.

Diakui, untuk wilayah Indonesia Timur, hanya Makassar dan Kota Sorong yang memiliki garbarata di pelabuhan. Artinya, kota Sorong selangkah lebih maju dari kota lainnya. Dengan demikian, tentunya mempunyai daya tarik tersendiri sehingga menarik investor untuk mau berinvestasi di Kota Sorong. Otomatis, dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan warga kota Sorong dapat lebih baik.

               “Rencana saya, setelah  reklamasi selesai dilakukan, saya akan tutup jalur ke pelabuhan. Kendaraan yang beraktifitas di jalan tersebut hanya yang berurusan dengan pelabuhan saja. Jalan akan saya alihkan dan saya akan bangun jalan dua jalur dari kuda laut sampi puncak Arfak dan turun di toko siswa.” Ujar walikota.

               Lanjutnya, “Ke depan, jalan yang berada tepat di depan hotel mamberamo akan ditutup dengan harapan, kami akan mengalihkan jalan melalui Puncak Arfak. Nanti akan dibangun jalan dua jalur dari kuda lalut dan turun sampai di toko siswa yang kemudian putar ke arah SMKK sampai di depan hotel mamberamo. Hal ini bertujuan agar aktifitas di pelabuhan tidak terganggu. Selain itu, lokasi pelabuhan dapat  diperlebar menjadi pelabuhan kontainer. Kalau pun ada kendaraan yang masuk itu, khusus untuk  melakukan aktifitas bongkar muat di pelabuhan. Ini adalah suatu perencanaan dari saya jika Tuhan berkenan karena saya masih ada waktu sebagai walikota selama 3 tahun sembilan bulan”, urainya.

               Di tempat terpisah, Walikota meminta kepada warga yang berjualan di sepanjang di pasar Boswesen agar dapat menjaga kebersihan, terlebih tidak membuang sampah di drainase. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan banjir akibat sampah yang bertumpuk di dalam drainase.

               Sementara itu, walikota saat meninjau pasar modern Rufei langsung  jempol yang menunjukan rasa bangga atas pekerjaan pasar yang sudah mendekati rampung.

               “Semua sudah selesai, tinggal terminal sekitar dua bulan lagi, berarti timbunan-timbunan yang sudah selesai siap untuk di hotmix. Sedang jalan dua jalur tinggal satu bulan lagi sudah sampai di pasar Rufei. Yang berikut saya tinggal melakukan hotmix dari depan Gereja Imanuel sampai depan pasar Rufei. Kalau semua sudah selesai, berarti sekitar bulan Agutus sudah bisa diresmikan. Bangga punya pasar seperti ini di tanah Papua”, tutur walikota .

               Menurutnya, untuk pertumbuhan, pengembangan dan pemberdayaan ekonomi, pasar merupakan tempat pengendalian ekonomi di seluruh kota termasuk Kota Sorong.
Sedang untuk pembangunan pasar Rufei, dana yang digunakan bersumber dari dana otsus, dimana besar biaya yang digunakan pada pembangunan pasar Rufei sebesar 80 sampai 90 persen yang bersumber dari dana otsus tadi.  

               “Pasar ini saya bangun selama empat tahun dan sudah selesai pada periode pertama saya. Hanya pada periode kedua ini hal-hal kecil saja yang harus saya benahi. Nah sekarang yang saya tunggu adalah masalah jalan dua jalur. Puji Tuhan masalah ganti rugi sudah saya lakukan dan pasar sementara saya pindahkan ke tempat reklamasi, sementara mereka menunggu pasar rufei rampung dan diresmikan sekitar 5-6 bulan mendatang”, aku walikota.

               Khusus untuk pasar mama-mama papua, tuturnya, hanya boleh di tempati oleh mama-mama asli Papua. Sedangkan mama-mama non papua boleh masuk tapi hanya untuk berbelanja.  untuk pasar yang besar diperuntukan untuk umum, dimana akan ditetapkan aturan  didalam peraturan daerah.

               Sementara itu, walikota pada sesi wawancara mengakui bahwa, pasar, bandara, pelabuhan, jalan dua jalur,  puskesmas dan sekolah-sekolah sudah dibangun. Apalagi di bidang kesehatan, semua puskesmas sudah dibangun dua lantai yang dilengkapi dengan fasilitas dan tenaga-tenaga medis. Sekolah-sekolahpun demikian yang juga dilengkapi dengan tenaga-tenaga pendidik yang sudah siap.

               “Walaupun orang berbicara sumbang, ,masyarakat sendiri sudah melihat pembangunan yang telah menyebar di seluruh kota. Jadi saya melakukan turlap ini, untuk meninjau langsung hasil pembangunan saya. Hal ini  agar masyarakat bisa melihat kalau mereka memilih saya itu tidak cuma-cuma. Saya telah berbuat yang terbaik selama enam tahun tiga bulan. Jelas semua ini tidak jatuh dari langit, tetapi melalui dukungan dan kerja keras. Itu juga tergantung kepala daerah yang mempunyai kemampuan untuk meyakinkan orang lain, baik dari pusat atau provinsi. Akhirnya mereka bisa mendukung dengan memberikan dana untuk saya membangun demi kesejahteraan masyarakat di tanah ini.” Pungkas walikota.

               “Tapi bagaimanapun pasti ada satu dua hal yang kurang karena saya juga manusia biasa yang mempunyai kekurangan. Tetapi dari kekurangan itu saya berusaha untuk membuatnya menjadi sempurna agar kelak dapat dinikmati oleh kita semua di kota ini. Selain itu, mereka-mereka yang datang dari luar bisa melihat bahwa di kota sorong ada perubahan, ada pembangunan dan ada kemajuan. Itu adalah kerjasama pemerintah dan semua lapisan masyarakat yang ada di kota ini”, tambahnya lagi.

               Walikota mengakui jika dirinya tidak akan membangun infrastruktur dengan skala sebesar pasar rufei, namun dirinya akan melihat pada skala yang lebih kecil, dimana pembangunannya hanya memakan waktu selama satu atau dua tahun saja, karena disaat itu dirinya masih menjabat sebagai walikota sorong.

“Ini karena saya tidak mau meninggalkan utang warisan kepada pejabat yang kelak akan menggantikan saya. Sebagai anak muda dan intelektual, jangan banyak bicara dan protes tapi datang beri masukan demi kemajuan kota sorong ke depan. Jangan hanya menyoroti tanpa memberi telaah, itu tidak bertanggung jawab. APBD Kota sorong paling kecil atau tidak sampai 1 triliun. Tapi saya berani membangun sesuatu yang besar”, tegas walikota.

Mengakhiri wawancara, walikota mengatakan, “Tidak semudah membangun pasar ini, butuh keberanian, kemampuan dan komitmen untuk membangun sesuatu di tanah ini. Dari hasil tinjauan hari ini, hanya tinggal membenahi sisanya saja sebelum peresmian. Menyangkut beberapa fasilitas yang sudah rusak seperti beberapa kaca yang sudah pecah, semua akan diperbaiki sebelum peresmian. Saya meminta kepada warga di sekitar pasar untuk bersama-sama menjaga pasar modern rufei”. (Kominfo Kota Sorong/brm)